POTRET KEMERDEKAAN DI ZAMAN KHULIFAUR RASYIDIN

Diantara cirri-ciri system kekhalifahan adalah terwujudnya kemerdekaan yang sempurna untuk mengkritik dan mengeluarkan pendapat. Para Khalifah tidak pernah menutup diri dari rakyat banyak, tapi sebaliknya, mereka seringkali duduk bersama anggota-anggota ahli musyawarah dan ikut serta dalam diskusi – diskusi dan pembahasannya. Tidak ada partai pemerintah dan partai oposisi. Setiap orang yang hadir dalam majelis musyawarah dengan mudah dapat memberikan pendapatnya dengan kebebasan penuh sebagaimana yang didiktekan kepadanya oleh iman dan hati nuraninya.

Dasar utama untuk memecahkan atau memutuskan perkara-perkara yang dihadapkan kepada mereka ialah argumentasi dan dalih yang benar, bukannya perasaan takut dari seseorang, pengaruh seseorang, atau demi mempertahankan kepentingan seseorang, kecenderungan  kelas dikelompok tertentu.

            Para khalifah bertemu dengan rakyatnya bukan saja pada saat-saat terjadinya musyawarah, tetapi mereka bertemu bersama sebanyak lima kali sehari dalam setiap sholat jama’ah, pada sholat Jum’at, juga pada setiap hari raya dan musim-musim haji.

            Rumah-rumah mereka berada diantara rumah-rumah rakyat banyak atau kaum awam, pintu-pintunya terbuka untuk semua orang tanpa adanya pengawal, sekretaris atau staf pribadi. Mereka itu berjalan-jalan di pasar-pasar tanpa dikawal oleh polisi atau pengawal pribadi yang melarang manusia lainnya berjalan-jalan di jalan itu untuk membuka jalan bagi majikan mereka. Setiap orang didalam Negara memiliki kebebasan penuh untuk menghentikan mereka dimanapun mereka dijumpai.

            Para khalifah itu tidak hanya membenarkan rakyatnya menggunakan kemerdekaan ini saja, bahkan mereka menganjurkan dan mendorong rakyat serta mengajak mereka untuk berbuat demikian. Dalam khutbah iftitahnya khalifah Abu Bakar berkata : “ Apabila aku berbuat baik, bantulah aku, tapi jika aku berbuat buruk, maka luruskanlah jalanku”.

Dalam salah satu khutbah Jum’at, Umar r.a pernah menyatakan bahwa barangsiapa yang hendak kawin, janganlah ia membayar mahar lebih dari empat ratus dirham. Seorang wanita memotong ucapannya itu dan mendebatnya dengan menyatakan bahwa Al-Qur’an telah membolehkan pembayaran sejumlah besar uang atau qinthar. Mendengar itu, Umar segera menarik kembali pendapatnya dan berkata : “Umar telah bersalah dan seorang wanita telah berkata benar.”

            Begitu pula Salman Al-Farisi pada suatu peristiwa pernah membuat perhitungan dengan Umar dihadapan orang banyak. Yaitu ketika ia melihat Umar mengenakan baju yang bahannya terdiri atas dua kali lipat yang menjadi bagian satu orang rakyat biasa dari bahan yang sama. Maka Umar minta kepada puteranya, Abdullah agar menjelaskan hal itu. Abdullah langsung bersaksi bahwa ia telah memberikan bagiannya itu kepada ayahnya.

Pernah suatu hari, Umar bertanya kepada orang banyak : “ Bagaimana pendapat kalian sekiranya aku berbuat lalai dalam suatu urusan, apa yang akan kalian perbuat?”. Bisyr bin Sa’ad berkata : “Jika anda berbuat yang demikian, kami luruskan dngan anak panah.” Umar menjawab :”Kalau begitu, anda memang benar, anda memang benar!”

            Utsman r.a menerima kecaman dan cercaan yang amat pedas, namun ia tidak berusaha untuk mendiamkan seseorang dalam kedudukannya sebagai khalifah dengan kekuatan, kekuasaan atau pengaruhnya. Sebaliknya, ia selalu menjawab kecaman-kecaman yang ditunjukan kepdanya dihadapan orang banyak dan dihadapan penglihatan dan pendengaran mereka.

            Demikian pula Ali r.a telah menghadapi cercaan-cercaan keji kaum khawarij pada masa kekuasaannya, dengan dada yang lapang. Pernah orang-orangnya menangkap lima orang pesuruh diantara mereka yang mencaci maki dengan cara terang-terangan bahkan salah seorang diantara mereka bersumpah dihadapan orang banyak akan membunuh Ali. Sungguhpun demikian Ali r.a telah melepaskan mereka dan berkata kepada orang-orangnya : “Cacilah mereka kalau kalian ingin”. Namun ia tidak mengambil suatu tindakan untuk menghukum mereka, sebab oposisi dengan ucapan dan lisan bukanlah suatu dosa yang dapat menyebabkan mereka ditangkap atau dihukum.

            Memang benar masa para khulifaur Rasyidin telah dan akan selalu menjadi pelita yang bersinar, yang merupakan arah pandangan para fuqoha, para ahli hadits dan seluruh kaum muslimin yang tulus sebagaimana ia tetap akan menjadi acuan dan neraca bagi system Islam dalam hal-hal yang bersifat keagamaan, politik, moral dan social sampai masanya Allah menyudahi bumi ini dan penghuninya.**

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s