Memimpin dengan “The 8th Habit”

Stephen R. Covey, seorang ahli kepemimpinan, menulis buku lanjutan dari The 7 Habits of Highly Effective People. Bukunya berjudul The 8th Habit (Kebiasaan yang Kedelapan) dan diterjemahkan oleh Gramedia (2005) dengan tambahan sub judul “melampaui efektivitas, menggapai keagungan.”Apa yang ditulis Covey dalam buku ini rasanya penting untuk dipraktekkan oleh siapa saja—termasuk para pemimpin di semua level.

Apa isi buku tersebut? Setidaknya, poin inti yang dapat kita ambil dari “kebiasaan ke-8” ini berbunyi, “menemukan suara panggilan jiwa anda dan mengilhami orang lain untuk menemukan suara kemerdekaan jiwa mereka.” Tugas pemimpin—dalam konteks ini—adalah bagaimana menemukan potensi/bakat atau panggilan jiwanya, dan ia mengilhami warga masyarakatnya (termasuk bawahannya dalam birokrasi) untuk menemukan potensi mereka/titik kompetensi terbaiknya untuk menciptakan kehidupan bermasyarakat yang lebih baik.

Dari 7 Hingga ke-8

Pada 1989, Covey menulis buku The 7 Habits. Ada 7 kebiasaan efektif manusia untuk menciptakan pribadi-pribadi yang unggul. Ketujuh kebiasaan itu adalah: 1). Jadilah proaktif, 2). Mulai dengan tujuan akhir, 3). Dahulukan yang utama, 4). Berpikir menang-menang, 5). Berusaha memahami dahulu, kemudian berusaha dipahami, 6). Wujudkan sinergi, dan 7). Mengasah gergaji. Kebiasan-kebiasaan efektif ini banyak dipraktekkan dimana-mana—tak terkecuali di Indonesia. Banyak pelatihan menggunakan referensi ini, baik yang digunakan oleh kalangan pemerintahan atau swasta. Ketujuh kebiasaan ini menjadi salah satu strategi untuk menciptakan kinerja yang baik di tingkat individual maupun organisasi/birokrasi.

Pertama, “Jadilah proaktif” bermakna bahwa untuk sukses, kebiasaan proaktif ini haruslah ada. Seorang pemimpin yang menunggu saja tidak akan mendapatkan inspirasi bagi kepemimpinannya. Ia haruslah memiliki inisiatif untuk itu. Begitu juga para manajer, atau staf. Mereka perlu proaktif memberikan masukan dan ide-ide kreatif untuk kemajuan diri dan lembaga mereka.

Yang kedua, “Memulai dengan tujuan akhir” memberi landasan visi yang jauh. Mudahnya dipahami sebagai pembentukan visi jangka panjang. Misalnya, seorang yang ingin mencapai posisi tertinggi di lembaganya, maka ia harus menargetkan visi itu, kemudian berusaha untuk mencapai apa yang sudah ia targetkan. Visi pemerintah pusat hingga daerah juga dibuat dan sesuai dengan kaidah kedua ini. Dalam konteks agama, mereka yang ingin bahagia dunia-akhirat (akhir nanti), maka ia juga perlu meniti kehidupan yang baik yang mengantarnya menuju ke sana.

Yang ketiga “dahulukan yang utama” juga kebiasaan yang baik. Dalam hidup, kita diperhadapkan pada banyak pilihan. Dari berbagai pilihan itu, kita perlu memilih mana yang paling penting, kurang penting, atau tidak penting. Berbagai masalah itu perlu dipetakan dan bertindak cepat untuk diselesaikan Dalam konteks kepemimpinan, dari berbagai program kerja pemerintahan/organisasi, maka ia perlu menentukan mana prioritas yang harus dijalankan, urgen sifatnya, dan tepat pada sasaran.

Kaidah keempat berbunyi “berpikir menang-menang.” Ini sikap luar biasa yang baik sekali. Dalam sejarah Mesir misalnya, Nabi Yusuf yang pernah disakiti (dimasukkan ke dalam jubb—sumur dalam yang penuh kalajengking dan binatang berbisa lainnya) oleh saudara-saudaranya. Ketika Yusuf as. dipercaya menjadi pembesar di negeri itu, ia tidak menampakkan sikap balas dendam. Ia malah memaafkan sikap saudara-saudaranya itu karena ia berpikir agar dirinya menang, dan orang lain juga menang. Sikap ini baik sekali dipraktekkan oleh para kepala daerah/ketua-ketua organisasi yang pernah bersaing mendapatkan jabatan. Dalam al-Qur’an surat Yusuf ayat 92, karakter “menang-menang” ini dapat dilihat dari ucapan beliau, “pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara yang penyayang.”

Kaidah kelima “berusaha memahami dahulu, kemudian berusaha dipahami.” Dalam penelitian Antropologi yang cenderung kualitatif dan memakan waktu lama, diajarkan bagaimana seorang peneliti belajar memahami budaya setempat. Pemahaman akan budaya itu (termasuk 7 unsur kebudayaan), kelak akan memudahkan pemerintah dalam menjalankan program-program pembangunan untuk komunitas tertentu. Kenapa kerap terjadi resistensi terhadap kebijakan pemerintah? Bisa jadi, itu karena sikap pemerintah yang tidak mau “berusaha memahami dahulu.” Akhirnya, karena komunitas tersebut merasa tidak dipahami, maka timbullah penentangan demi penentangan. Yang terbaik adalah, memahami apa world of view (pandangan dunia/paradigma/mindset/cara berpikir) orang lain, kemudian menjalankan program kerja.

Kaidah keenam, “wujudkan sinergi.” Beberapa waktu lalu, seorang wakil kepala daerah mengungkapkan di media massa bahwa dalam berbagai keputusan penting, ia kerap tidak dilibatkan oleh sang pemimpin nomor satu di daerah tersebut. Karena posisinya juga sebagai “wakil”, jadinya mewakili apa saja kebijakan dari yang lebih di atas. Dalam konteks kepala daerah—bahkan termasuk di tingkat kepala negara—pasangan nomor satu dan dua perlu mewujudkan sikap yang sinergis (bekerjasama yang baik). Artinya, 01 dan 02 adalah figur bagi rakyatnya. Ketika mereka tidak bersinergis, maka yang akan menanggung bebannya adalah rakyat juga. Kerap kita lihat pemimpin yang saling berseteru antara satu dan lainnya. Sikap sinergis ini bukan hanya untuk pasangan kepala daerah, tapi untuk sinergitas dengan para wakil rakyat, dan stakeholder yang ada.

Dan kaidah yang ketujuh adalah “mengasah gergaji.” Dalam buku Covey, diterangkan tentang seorang yang menggergaji. Kalau ia menggergaji pohon terus-menerus, maka pasti ia akan didera rasa lelah. Dan, jika lelah itu melanda, kemudian ia tetap menggergaji, maka tentu kekuatan dan hasilnya tidaklah maksimal. Olehnya itu, maka gergaji perlu diasah agar efektif dan optimal hasilnya. Dalam kepemimpinan juga seperti itu. Seorang pemimpin perlu mengasah kemampuannya dengan baik. Pengiriman beberapa pejabat daerah ke Universitas Harvard untuk belajar selama beberapa minggu adalah ide yang baik. Tentunya, ketika mereka sudah kembali ke daerah, perlu sekali untuk membagi apa yang telah dipelajarinya (termasuk ke kampus) dan berupaya mempraktekkan ilmu itu untuk kesejahteraan di daerah.

Pemimpin “The 8th Habit”

Kaidah yang kedelapan ini berbunyi, “menemukan suara panggilan jiwa anda dan mengilhami orang lain untuk menemukan suara kemerdekaan jiwa mereka.” Ada dua poin yang penting di sini. Yang pertama untuk personal pemimpin itu, dan kedua untuk masyarakat atau bawahannya. Pada bagian “menemukan suara panggilan jiwa anda”, seorang pemimpin perlu tahu potensinya dimana. Ia haruslah tahu dimana kekuatan serta kelemahannya (bisa dengan analisis SWOT), dan sadar akan program yang harus ia tuntaskan dalam rentang kepemimpinannya.

Pemimpin yang sadar diri seperti ini tidak akan sombong dengan jabatannya. Ia tidak akan semena-mena, tidak akan asal mencopot jabatan orang lain karena faktor emosional—seperti yang dipraktekkan oleh walikota Manado yang mencopot sekretaris kota (sekkot) dan ketika digugat, sang walikota pun kalah. Suara hati seorang pemimpin berada dalam kedalamannya sendiri. Orang yang seperti ini memiliki keagungan dalam dirinya, dan orang lain pasti akan merasakan keagungan tersebut. Artinya, jika hingga beberapa bulan atau tahun berjalan, kita tidak merasakan keagungan atau kepedulian dari seorang pemimpin, maka sangat bisa jadi pemimpin tersebut belum berhasil menemukan panggilan jiwanya untuk memimpin dengan amanah.

Setelah seorang pemimpin menemukan hati nuraninya itu, maka perlu menjadi inspirator. Untuk apa? Dalam konteks ini, sang pemimpin diperlukan untuk menjadi inspirator yang mengilhami orang lain untuk sukses juga. Misalnya, masalah pengangguran. Seorang pemimpin perlu menjadi inspirator bagi penganggur-penganggur itu agar bekerja secara kreatif. Ini berarti, dana untuk pembibitan wirausaha mandiri (terutama anak muda) perlu ada dan tepat pada sasarannya.

Kata “mengilhami” dalam Bahasa Inggris dikenal dengan “inspire” yang ternyata berasal dari Bahasa Latin “inspirare” yang berarti “menghembuskan kehidupan pada sesuatu atau seseorang.” Inspirasi yang dapat diberikan oleh seorang pemimpin kepada masyarakatnya, dapat berupa inspirasi secara fisik (artinya ia seorang yang bersih, dan wilayahnya juga bersih). Bisa juga berupa inspirasi emosional (ia empatik dengan penderitaan kaum papa, jika ada musibah ia segera datang dan bertindak cepat), atau ia juga memberikan inspirasi secara spiritual dengan tingkat kesalehan yang setidaknya di atas rata-rata. Orang yang saleh akan takut jika ia tidak adil dalam memimpin. Dan, ini pastinya terkait pada sejauhmana hubungan baiknya secara spiritual dengan Tuhan.

Saat ini, ada baiknya kita bertanya: adakah pemimpin kita yang punya karakter 7 habits (7 kebiasaan) tadi, ditambah dengan kebiasaan yang ke-8 yaitu menemukan suara hatinya sendiri dan mengilhami orang lain? Mungkin saja ada, namun tingkat “ada”-nya itu rasa-rasanya belum banyak terlihat di masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s