KeTika Yang lain BURUK Tetap JaDilah yang TERBAIK

Oleh : Eman Muyatman

Kita tidak akan ditanya kenapa Islam runtuh? Karena runtuh dan bangkitnya peradaban adalah keniscayaan. Tapi kita akan ditanya, apa peran kita ketika itu ?

……..Semua orang tahu alam Indonesia sangat kaya. Areal hutannya termasuk paling luas di dunia, tanahnya subur, alamnya indah. Tongkat kayu jadi tanaman, begitu Koes Plus mendendangkan .

Indonesia juga adalah negeri yang memiliki potensi kekayaan laut luar biasa. Tak heran bila McMoran Copper and Gold, induk dari PTFI, berani mebenamkan investasi yang sangat besar untuk mengeduk emas dari bumi Papua itu sebanyak-banyaknya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

Tapi, semua orang juga tahu, kini Indonesia terpuruk menjadi negara miskin. GNP per kapita hanya sedikit lebih banyak dari Zimbabwe, sebuah negara miskin di Afrika. Sudahlah rakyatnya miskin, utang negara luar biasa besar.
Disebut-sebut lebih dari Rp 1400 trilyun rupiah. Sebanyak Rp 742 trilyun ruiah di antaranya berupa utang luar negri, sisanya adalah utang dalam negeri.
Mengapa itu bisa terjadi ? Di mana letak kekeliruannya, pada sistem pengelolaan atau persoalan manusia? Atau keduanya? Masih layakkah umat Islam kini dipandang sebagai umat terbaik?

Menurut KH Ohan Sudjana, Ketua Dewan Pusat Syarikat Islam Indonesia, umat Islam ini akan kembali mencapai kejayaan ketika merasakan “kehadiran” Rasulullah saw dalam setiap langkah perjuangan. “Perjuangan menegakkan Islam memang bukan jalan karpet merah bertabur bunga dan tepuk tangan, tapi kesusahan. Namun Allah menjadikan hati orang beriman itu indah dengan cinta pada keimanan.”, ungkap Ohan.

Jadi memang akan ada seleksi. Mana emas dan mana loyang akan terlihat setelah penempahan. Selanjutnya pria bernampilan sederhana itu mengutip Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surah Al-Hujurat:07, “ Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan da menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.”

Inilah problem terbesar yang dihadapi oleh umat Islam di seluruh dunia. Hari ini umat Islam dan tokoh-tokohnya disibukkan dengan urusan-urusan yang dangkal dan sepele. Sementara musuh –musuh Islam tak henti-hentinya menyerang dan meruntuhkan sendi-sendi agama. Mereka menggugat Al-Qur’an, mereka melecehkan teladan mulia, mereka mengombang-ambingkan akhlak umat Islam dengan nilai-nilai yang semakin buram.
Di semua lini sosial, telah dan terus terjadi deviasi sistemik dalam gelombang yang besar. Kerusakan terjadi seperti badai.
Kebohongan telah dibangun seolah-olah seperti kebenaran. Dan tak jelas lagi hitam putih akhlak dan moral. Dunia politik di Indonesia menjadi contoh kongkrit betapa anomalinya kejujuran. Sebaliknya, dusta dan kekejian menjadi sesuatu yang mutlak dan niscaya.

Di tengah kondisi yang terburuk menjadi yang terbaik bukan hal yang ringan.
Di tengah sistem dan manusia yang korup, menegakkan dagu dan buktikan tak sedetikpun terpikir untuk menelan hak orang lain, bukan gampang. Di saat semua manusia berpikir dangkal, menjadi seorang yang berpikir dalam, sama artinya dengan abnormal.
Tapi di sinilah letak kewajiban kita, menjaga nurani peradaban. Menjadi pelopor memang tak mudah. Tapi tak ada yang tak mungkin.

Seperti Dr Anas Ahmad Karzun yang keliling dunia untuk memasyarakatkan al Qur’an. Banyak muslim di dunia yang mengaku dapat membaca al Qur’an, namun sedikit sekali mereka yang hapal dan dapat memahaminya. Berangkat dari fenomena seperti ini, Direktur al Haiah al ‘Alamiah li Tahfidzhil Qur’an (lembaga internasional untuk tahfizh al Qur’an) Dr Anas Ahmad Karzun rela berkeliling ke negara-negara Muslim guna membumikan al Qur’an. Beliau menyadari, memasyarakatkan al Qur’an tidak berarti hanya membagikannya secara gratis.

Lebih dari itu, membumikan al Qur’an berarti mengajak orang agar mau menghapal, menelaah dan mengajarkannya kepada orang lain. Menurutnya interaksi dengan al Qur’an harus disesuaikan dengan metode yang dikembangkan para sahabat ra.
Dalam rangka menjaga al Qur’an para sahabat tidak lepas dari metode al-hifzhu, al-fahmu, dan al-‘amal (menghapal, memahami, dan mengamalkan). Para sahabat radhiyallahu’anhum tidak mencukupkan diri hanya dengan membaca dan menghapal al Qur’an saja. Mereka juga mempelajari dan mentadabburi ayat-ayatnya. Kemudian mereka berlomba-lomba untuk mengaplikasikan al Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.” Ujar Syekh Anas.

Menjadi jernih di tengah kerancuan berpikir, adalah perjuangan tersendiri. Tak banyak orang yang mampu melalui dan bisa bertahan dalam prosesnya. Tapi memang, tak perlu banyak-banyak orang dan bersifat massal. Motor perubahan tak pernah berjumlah besar. Ia selalu kecil, tapi jernih cara pandangnya, serta dalam pemikirannya, serta militan sikapnya. Kini pilihannya adalah, menjadi dangkal, atau memilih dalam.

Sekali lagi, menjadi pelopor memang memerlukan tekad yang kuat. Di antara ciri-cirinya adalah seperti tercantum dalam al Qur’an surah al Fath:29. “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dgn kekuatan org2 mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh di antara mereka ampunan  dan pahal yang besar.”

Hidup ini hanya sekali, buatlah berarti. Ketika yang lain buruk, tetaplah menjadi yang terbaik. Sebab, kelak tangan dan kaki kita akan berbicara, mata dan telinga kita akan bersaksi di depan Allah SWT kebaikan apa yang telah kita tegakkan di muka bumi ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s