HOS Tjokroaminoto

Selain dikenal sebagai tokoh sentral pergerakan nasional Tjokroaminoto juga merupakan penulis yang kritis.  namun, jarang sekali kita mengetahui informasi mengenai karya-karyanya. padahal, karya-karya Tjokroaminoto sempat menjadi buku pegangan wajib aktifis-aktifis Islam sampai akhir orde lama. Oleh karenanya penting rasanya untuk membuat sedikit resume mengenai karya-karya Tjokroaminoto. Disela-sela kesibukanya sebagai ketua CSI (Central Sarekat Islam), ia masih menjadi direktur sekaligus pimpinan redaksi dari harian Oetoesan Hindia yang berkantor di Surabaya. Tidak hanya itu, secara khusus ia menyempatkan menuliskan beberapa karya tulis. Karya tulis itu antara lain[1] :

  1. Islam dan Sosialisme pada tahun 1924
  2. Program Asas dan Program Tandhim Partai Sarekat Islam Indonesia pada tahun 1930
  3. Tarich Agama Islam, Riwayat dan Pemandangan atas Kehidupan dan Perjalanan Nabi Muhammad pada tahun 1931
  4. Reglemen Umum Bagi Ummat Islam pada tahun 1934

 Islam dan Sosialisme merupakan buku yang ditulis Tjokroaminoto dalam upaya menghadapi pemikiran SI Semarang yang dipimpin Soemaoen.  Buku 104 halaman ini, secara konfrehensif mengungkap makna dari sosialisme. Ia pun menjelaskan bahwa sosialisme sebagai suatu dasar pemikiran memiliki begitu banyak varian. Pemikiran sosialisme Marx yang merupakan rujukan sosialisme modern, berakar pada filsafat materialisme histories yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Islam. Karena menurutnya materialisme histories mengajarkan bahwa material (benda)-lah satu-satunya yang ‘ada’ dengan begitu Marx menegasikan hal-hal gaib termasuk Tuhan. Selanjutnya ia menjelaskan bahwa prinsip dasar sosialisme adalah kemerdekaan, kesamaan, dan persaudaraan, nilai-nilai ini ternyata bukan hanya ada dalam Islam tetapi sudah pernah dilaksanakan secara kongkrit pada masa Rasulullah dan para sahabat. Sehingga ia menuliskan dalam salah satu bagian dari bukunya Islam dan Sosialisme dengan “bagi kita orang Islam tidak ada sosialisme atau rupa-rupa isme yang lebih baik, yang lebih elok dan lebih mulia melainkan sosialisme yang berdasar Islam itulah saja”. Buku ini menjadi bukti begitu kuatnya pembacaan Tjokroaminoto terhadap karya-karya pemikir Barat.

Buku selanjutnya adalah Program Asas (Program Dasar) dan Program Tandhim (Program Perjuangan) PSII, buku ini merupakan pegangan  keorganisasian dari PSII. Buku 99 halaman ini sesungguhnya sudah dirumuskan sejak Kongres Nasional ketiga dan terus diperbaiki sampai disempurnakan pada Kongres di Yogyakarta pada tahun 1930[2]. Menurut Ohan Sudjana buku ini selesai disusun di Bogor tanggal 26 Oktober 1931[3]. Begitu fenomenalnya buku ini, menurut kepercayaan sebagaian orang, buku ini ditulis dengan dikte dari Rasullullah dalam mimpi Tjokroaminoto[4]. Buku ini membincangkan mengenai dasar Islam yaitu kalimat syahadat secara konfrehensif dan konsekuensinya bagi setiap muslim. Ia menjelaskan bahwa Al-Qur’an yang telah diturunkan oleh Allah 14 abad yang lalu sudah sempurna sebagai pedoman manusia. Buku ini adalah penafsiran Tjokroaminoto terhadap ajaran Islam dalam upaya menjawab dan mengatasi permasalahan-permasalahan yang berkembang lewat pergerakaan PSII. Hal-hal yang dibahas antara lain; persatuan umat Islam, penghidupan rakyat, sifat pemerintahan, pengajaran dan pendidikan, dan lain-lain.

Menurut Tjokroaminoto dalam buku ini program asas PSII disusun dalam enam tingkatan perjuangan yaitu: persatuan umat, kemerdekaan umat, sifat pemerintahan, penghidupan ekonomi, keadaan dan derajat manusia, dan kemerdekaan sejati. Di sisi lain, adapun program tanzim partai tentang perlawanan dan sandaran gerak perlawanan terdiri dari tiga pokok, yaitu: bersandar kepada sebersih-bersih tauhid, bersandar kepada ilmu (wetenshap), dan bersandar kepada siasah (politik) yang berkenaan dengan bangsa dan negeri tumpah darah sendiri, dan politik menuju maksud akan mencapai persatuan atau perhubungan dengan umat Islam di lain negeri (Pan Islamisme)[5].

Tarich Agama Islam, Riwayat dan Pemandangan atas Kehidupan dan Perjalanan Nabi Muhammad adalah karyanya yang menjadi alternatif bagi umat muslim Indonesia untuk mempelajari sejarah Islam dan Nabi Muhammad SAW. Dalam kata pendahuluan buku setebal 203 halaman ini, ia mengungkapkan bahwa buku  yang membahas tentang ini tebalnya beratus-ratus halaman dan lewat bukunya akan memudahkan memahaminya.  Referensi Tjokroaminoto dalam penulisan buku ini adalah karangan ulama Islam di negeri Barat. Hal ini dipahami karena ketidakfasihanya akan bahasa arab. Pada perkembangannya buku ini dikritik oleh beberapa ulama Indonesia sendiri karena ulama-ulama rujukan Tjokroaminoto seperti  Maulwi Muhammad Ali adalah ulama Ahmadiyah yang memang pada saat itu sudah mulai ada kecurigaan terhadap penyelewengan ajaran ini. Namun terlepas dari itu lewat buku ini Tjokroaminoto ingin membangkitkan optimisme bangsa Indonesia bahwa dengan menegakan Agama Allah umat terdahulu diberikan kejayaan yang luar biasa.

Terakhir buku ‘Reglemen Umum Bagi Ummat Islam’ adalah buku yang ditulis terakhir menjelang kematiannya. Buku ini dibicarakan dalam kongres PSII ke XIX di Jakarta dan disahkan dalam kongres PSII ke XX di Banjarnegara pada 20-26 Mei 1934, hanya beberapa bulan sebelum Tjokroaminoto wafat[6]. Buku 69 halaman ini berisi 20 bab yang mencoba menjelaskan sekelumit tentang kehidupan dan solusinya yang disandarkan kepada Al-Qur’an dan Hadis. Dalam buku ini sifat keulamaan Tjokroaminoto begitu menonjol, sehingga  tidak berlebihan kalau ia juga dapat kita sebut sebagai ulama.

Adapun 20 bab yang dibahas dalam buku ini adalah: (1) pedoman umum bagi kehidupan sosial Islam, (2) maksud dan tujuan hidup di dunia, (3) petunjuk budi pekerti utama, (4) petunjuk tentang keadilan dan kejujuran, (5) petunjuk kebenaran dalam perkataan, (6) petunjuk kebaikangkan budi yang seluas-luasnya, (7) petunjuk mengikat perjanjian dan persaksian, (8) petunjuk iman dan Keislaman sejati, (9) petunjuk persatuan muslimin, (10) petunjuk memilih pimpinan dan menurut pimpinan, (11) petunjuk membuat jalan yang benar, (12) petunjuk melakukan perbuatan ibadah yang benar, (13) petunjuk anggapan hidup di dunia, (14) petunjuk budi pekerti terhadap keluarga, (15) petunjuk maksud perhubungan perkawinan, (16) petunjuk kelakuan dan penjagaan terhadap anak yatim, (17) petunjuk contoh keutamaan terhadap lain-lain orang, (18) petunjuk kebaikan sosial ekonomi, (19) petunjuk memerintahkan barang yang benar dan melarang barang yang salah, serta (20) petunjuk lebih mementingkan keperluan umat dari pada keperluan atau urusan sendiri[7].


[1] M. Masyhur Amin, 1995, H.O.S Tjokroaminoto: Rekonstruksi Pemikiran dan Perjuangannya, Yogyakarta: Cokroaminoto University Press,  hal  29.

[2] Rambe, op.cit., hal 222.

[3] Ohan Sudjana, 1999,  Liku-liku Perjuangan Syarikat Islam, Jakarta: DPP PSII-1905, hal  53-54.

[4] Amin, 1995,  op.cit., hal 31.

[5] HOS Tjokroaminoto, 1985,  Tafsir Program Asas dan Program Tandhim Syarikat Islam,  Jakarta: Yayasan Bina Sari lihat jugaSudjana  op.cit., hal 54.

[6] Ibid., hal 57.

[7] HOS Tjokroaminoto, loc, cit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s