Dakwah Jalan Terus : Usaha di Tengah Keterbatasan

Mengenang masa lalu, tak terasa kita telah jauh meninggalkannya. Beragam aktivitas keduniawian, membius bagaikan candu yang merusak kesadaran kita tentang kondisi yang telah terjadi. Benar dan salah tidak lagi menjadi patokan hidup kita, mana yang menguntungkan itulah yang kita pilih. Walaupun sholat fardu masih menemani keseharian, namun tidak memiliki ruh Illahiyah lagi.

Begitulah sekelumit kehidupan yang saya rasakan, dan mungkin teman-teman rasakan juga. Hampa kehidupan rasanya, setelah begitu susah payah kita mengejarnya. Pada suatu titik, wafatnya kerabat dan sahabat telah menjadi pengingat akan kefanaan dunia ini. Tidak bisa tidak, kita harus menyadarkan diri kita untuk segera membuka mata. Melanjutkan kehidupan dengan opitimisme baru, jangan lagi berdamai dengan harapan kosong. Melawanlah, sebagai bukti eksistensi keimanan kita.

Meninjau kembali tujuan hidup kita

Dari mana kita memulainya? itulah pertanyaan yang akan kita jawab segera. Hal yang utama adalah kita bersama-sama meninjau kembali tujuan hidup kita. Saya masih teringat akan sebuah diktat training yang memaparkan berbagai tujuan hidup manusia. Menurut diktat tersebut seingat saya ada (8) delapan tujuan hidup manusia jika dilihat secara umum, yaitu :   cinta dan hubungan dengan keluarga (kaitannya dengan anak, istri, suami, orang tua, kekasih dll),  harta dan kekayaan (kaitannya dengan rumah, kendaraan, tabungan, kebun, pakaian, dll), kondisi fisik (kaitannya dengan paras, kesehatan, dan bentuk tubuh ideal, dll)  karir dan pekerjaan (kaitannya dengan jabatan, pangkat, bisnis, popularitas, dll), skill atau keahlian, hobbi atau kesenangan subjektif, keilmuan dan pengetahuan, dan terakhir adalah agama dan nilai-nilai ketuhanan.  Kedelapan tujuan hidup tersebut secara sadar ataupun tidak telah mendominasi kelangsungan kehidupan kita selama ini.

Dilihat dari kacamata kemanusiaan, tujuan hidup yang telah kita paparkan di atas adalah wajar dan positif. Karena kita melihat sebagian besar  manusia bagaikan tidak mengejar sesuatu apapun. Mengalir saja, bagaikan air. Hal ini harus kita fahami karena memang, kita tidak pernah secara khusus mendapatkan pengetahuan tentang ini di sekolah formal. Pengetahuan ini didapat melalui kontemplasi dan pemikiran yang mendalam, sehingga kita akan mendapatkan kejelasan fokus yang harus dituju dalam kehidupan kita. Sayangnya, kebanyakan kita hanya terpengaruh secara tidak sadar oleh berbagai media yang setiap hari mengisi otak kita, terutama lewat televisi. Secara membabi buta kita meniru setiap tindak-tanduk yang diperankan oleh para aktor-aktris tanpa ada usaha menyaringnya. Sehingga kalau diungkapkan dalam kata kasarnya,  kita telah diperbudak oleh kekuatan global tanpa mampu melawan.

Sebagai referensi akan kegundahan kita, ada baiknya kita melihat salah satu ayat dalam Al-Qur’an : “mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati (belum ada), lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian Ia mematikan kamu, lalu menghidupkan lagi, kemudian hanya kepada-Nyalah kamu akan kembali”. (Q.S. Al-baqarah, 2 : 28)

Dari ayat tersebut, kita diterangkan tentang fakta kehidupan. Ada 4 (empat) fase yang disiapkan Allah untuk umat manusia, yaitu ; mati pertama, hidup pertama, mati kedua, dan hidup kedua. Dari penjelasan tersebut, mempertegas perbedaan konsep kehidupan antara kita dengan kaum materialis yang tidak lagi mempercayai kehidupan setelah mati. Ataupun agama lain yang menerangkan adanya kelahiran kembali yang terus menerus namun dalam beda wujud. Sehingga fase sekarang ini, fase kehidupan pertama adalah fase yang sangat menentukan untuk fase berikutnya. Oleh karenanya kita harus kita harus memilah-milah jalan yang akan kita tempuh, apakah jalan fujur atau jalan taqwa. Hanya itu tidak ada pilihan lain.

Untuk lebih tegasnya, Ali Syariati dalam buku kecilnya ‘agama’ versus agama. Membela keberagamaan umat manusia menjadi dua, yaitu ‘agama’ yang dalam terjemahan bebas dapat kita artikan sebagai suatu ajaran lengkap dengan pengikutnya yang mencoba mengingkari kodratnya sebagai makhluk Tuhan dan cenderung mempertuhankan hawa nafsunya. Kelompok ‘agama’ ini akan sekuat tenaga memerangi agama yang suci, yang menawarkan penghambaan kepada Allah semata, persaudaraan, dan persamaan. Menurut Ali Syariati, pertarungan kedua komponen itulah yang mewarnai sejarah peradaban manusia. Dalam hal ini kelompok agama, dimotori oleh para nabi dan Rosul yang revolusioner dalam upayanya menyebarkan ajaran Tauhid.

Oleh karenannya setelah kita melihat pemaparam di atas, kita harus kembali kepada memilih tujuan hidup. Sebagai makhluk yang diberikan berbagai kesempurnaan, dalam hal ini adalah akal tentunya kita bisa memilah dan memilih secara jernih sesuai dengan maksud Sang Pencipta menciptakan kita. Sehingga adanya sinergisitas, yang akan berdampak kepada ketenangan dalam menjalani hidup, karena keimananlah substansi yang kita cari, sebagai konsekwensi dari relativitas menusia dalam memahami keabsolutan Tuhan. Sebagaimana yang dikatakan oleh H.O.S Tjokroaminoto : “tiap-tiap orang Islam tidak harus takut kepada siapa atau pun apa pun juga, melainkan diwajibkan takut hanya kepada Allah saja”.

Apa kabar dengan dakwah?

Bersyukur bagi fihak-fihak yang telah memahami konsep dakwah secara dalam, bahkan sudah menjadikan dakwah agenda yang terorganisir dalam kehidupannya. Namun bagi yang belum, tidak lah masalah. Karna , kalau kita mau jujur, kata ‘dakwah’ terlalu berat bagi orang awam seperti saya. Oleh karenannya, saya mencoba menghibur diri dengan me re-difinisi sesuai dengan kondisi yang kita hadapi. Sama-sama kita ketahui, sebagian besar kita hanyalah orang-orang yang tidak secara reguler belajar ilmu agama, dan mengenal Islam hanya dari orang tua semata. Ditambah lagi perasaan sebagai hamba yang penuh dosa dan jauh dari agama. Namun kondisi itu janganlah membuat kita berputus asa atas  Rahmat Tuhan, karena Allah Maha Pengampun dan Maha Penerima Taubat.

Lebih jauh, kalau kita mau menilik hakikat kemanusiaan dalam Al-Quran. Terlihat jelas nilai-nilai persamaan yang diusungnya. Islam tidak pandang status sosial, suku, usia, dan juga latar belakang kehidupan seseorang. Karena, setiap manusia dibekali potensi tauhid yang sama. Karena sebelum manusia dilahirkan ke muka bumi, kita telah bertemu Allah untuk melakukan perjanjian  ketaatan kita kelak ketika lahir di dunia.  Tentunya secara psikologis, ‘God Spot’ itu akan terus menyuarakan ketundukan akan ajaran Islam kepada sang empunya. Tinggal bagaimana kita merespon itu, dan secara sadar memilih untuk taat secara bertahap dengan kerelaan hati.

Kembali kepada dakwah, menurut saya usaha kita untuk menyambut suara hati  untuk taat kepada Allah adalah juga bagian dari dakwah. Karena secara sosiologis, kita hidup dalam ‘habitus’ yang tentunya akan berinteraksi seara reguler dengan orang-orang terdekat kita. Sehingga,  perubahan menuju perbaikan yang kita lakukan akan menjadi referensi mereka untuk mengikuti, atau minimal mentololerir usaha kita itu. Dan lama-kelamaan tanpa kita sadari, berislam dalam segala aspeknya, tidak lagi menjadi hal yang aneh bahkan menjadi suatu keharusan disuatu masyarakat.  Jadi konsistensi adalah hal yang mutlak, oleh karenanya berusahalah dengan sekeras-kerasnya agar kita terus berada dalam usaha penghambaan diri kepada Allah dan juga berdo’a agar dimasukkan kedalam golongan orang-orang yang selamat. Karena konsisten adalah hal yang sangat sulit untuk dilaksanakan, kebanyakan kita masih konsisten dengan inkonsisitensinya.

Kamu Islam yang Mana?

Pertanyaan yang menggelitik sekaligus menyedihkan. Terkadang, atau bahkan sering dijumpai ada saja usaha untuk mempertegas keimanan seseorang. Kita yang sudah memiliki kelompok tertentu akan memiliki kecendrungan untuk strereotype terhadap kelompk yang lain. Bagi saudara-saudara kita yang sudah memiliki pengajian secara reguler akan semakin terlihat kekhasannya dibanding kelompok pengajian yang lain.   It’s ok. Saya teringat kata Aa Gym, bagaikan menggotong keranda mayat, semakin banyak orang yang terlibat seharusnya semakin ringan pekerjaan itu. Namun, faktanya tidak sama sekali, begitu banyak forum debat dibuka secara umum, menggunjing, atau bahkan melukai secara fisik, hanya karena kita berbeda kelompok.

Fenomena ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut, bahkan mungkin kita yang akan menyiarkan dakwah Islam akan semakin ditakuti oleh khalayak ramai, dengan pertanyaan yang sama “Kamu Islam yang mana?”. Terlepas dari nash-nash agama yang melegitimasi kebenaran dan kesalahan, dalam konteks manusia kita harus kembalikan lagi bahwa manusia itu relatif. Kesadaran bahwa bahwa kita adalah makhluk relatif, bukan dimaksudkan untuk merelatifkan ajaran Islam. Namun agar supaya kita saling silih-asuh, mentoleransi, dan mengayomi. Dalam kondisi seperti ini tidak mungkin kita berharap akan hadirnya Nabi lagi sebagi penjelas akan tafsir agama yang otentik, karena itu tidak mungkin. Oleh karenannya, maknai persaudaraan kita dengan saling bersilaturahmi, kuat- menguatkan, dan bermusyawarah dengan mengedepankan kemaslahatan. Dalam hal ini perlu kita dalami makna pernyataan Ali r.a “ jangan lihat siapa yang berkata, tapi dengarlah apa yang dikatakannya” yang bermakna untuk mengahargai pendapat orang lain karena mungkin dari seorang bocah kecil akan ada kebijaksaanaan yang begitu besar.

Penutup

Dari sedikit uraian di atas, akan coba diambil benang merahnya, diantaranya adalah :

Pertama, ada dua objek dakwah yaitu  orang yang memiliki tujuan hidup yang jelas namun mengesampingkan nilai-nilai keislaman, dan juga orang yang sama sekali tidak pernah memilih tujuan hidupnya secara pasti. Sehingga metode dakwahpun perlu disesuaikan dengan objeknya, oleh karenanya kita jangan sampai menegasikan peran-peran aktivis dakwah yang lain hanya karena perbedaan metode. Alangkah baiknya kalau semua segmentasi masyarakat telah terwarnai oleh dakwah Islam. Sebagai catatan, bahwa keempat khulafaurasyidin memiliki latar belakang yang berbeda, Abu Bakar adalah seorang tokoh masyarakat, Umar adalah seorang preman, usman adalah seorang saudagar, dan Ali adalah seorang cendikiawan, serta Bilal yang merupakan golongan budak. Namun karena sinergisitas dari kemeempat elemen plus Bilal inilah Islam dapat bertahan dan mampu menyebarkan sayapnya.

Kedua, pengejaran terhadap kesenangan dunia adalah hal yang diperbolehkan asalkan masih dalam bingkai Islam. Dengan rumusan yang lebih mudah, kecintaan kita kepada Allah tidak boleh disamakan atau dikecilkan dibanding dengan kesenangan-kesenangan dunia yang ada. jadi Allah benar-benar melingkupi kehidupan kita. Berat memang, tetapi itulah konsep tauhid, yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Ketiga, apapun aktivitas, profesi, status, dan jabatan kita sekarang dakwah haruslah tetap berjalan. Karena sebagai seorang muslim menyampaikan kebenaran walaupun hanya satu ayat adalah kewajiban. Oleh karenanya terlebih dahulu kita mulai dengan berusaha menjadi muslim yang taat, dengan kesadaran yang penuh serta berupaya konsisten. Dalam usaha ini, kita harus mengingat salah satu hadis nabi Muhammad yang menyatakan bahwa “barang siapa membunuh seseorang tanpa alasan yang jelas, kejahatannya sama saja dengan membunuh semua umat manusia”. Oleh karenanya setiap manusia memiliki potensi yang sama. Secara historis kita pun semuanya ternyata berasal dari hanya satu orang yaitu Adam, sehingga kalau logikanya kita balik, kalau saja kita mendakwahi satu orang sehingga Ia mampu kembali ke jalan yang benar, sangat mungkin pahala kita sama dengan mendakwahi seluruh umat Islam di muka bumi. Subhanallah.

Keempat, apapun ‘kelompok pengajian’-nya, kita adalah saudara. Karena kita sama-sama mengejawantahkan ajaran Islam, walaupun mungkin dalam sisi yang berbeda. Silaturahmi dan Musyawarah mutlak diagendakan. Serta, Kesadaran akan kerelativan manusia harus menjadi kesadaran bersama, untuk mewujudkan baldatun toyibatun wa robbul ghofur.

Kelima, walaupun ada usaha-usaha pihak-pihak luar untuk ‘katakanlah’ menghancurkan Islam. Tetapi isu itu janganlah selalu dijadikan pembicaraan sentral. Walaupun kita harus tetap waspada, namun yang perlu kita garisbawahi adalah bagaimana membangkitkan kesadaran –apa yang disebut SOA dengan- “the sleeping giant’ dengan pontensi sendiri. Tanpa harus reaktif dalam merespon secara berlebihan terhadap musuh-musuh Islam.  Sehingga kita fokus terhadap pembenahan managerial, dalam upaya mewujudkan umat bagaikan bangunan yang tersusun kokoh. Semoga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s