ISLAM DAN KEHIDUPAN MANUSIA

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.  (QS 5:3, Al Maaidah).

 PENGERTIAN TENTANG AGAMA

Endang  Saifuddin Anshari, MA berpendapat,  bahwa  Agama, Religi  dan  Din  (pada umumnya) adalah  satu  sistema credo (tata keimanan atau tata keyakinan) atas  adanya sesuatu  Yang Mutlak di luar manusia dan  satu  sistema ritus  (tata peribadatan) manusia kepada  Yang  Maha Mutlak  itu  serta  sistema norma  (tata  kaidah)  yang mengatur hubungan manusia dengan alam lainnya, sesuai dan sejalan dengan tata-keimanan dan  tata-peribadatan termaksud. Karena itu Agama Islam adalah merupakan satu sistema aqidah dan tata-aqidah yang  mengatur  segala peri-kehidupan  dan penghidupan manusia   dalam   pelbagai hubungan: baik hubungan manusia dengan Tuhannya, maupun  hubungan  manusia dengan  sesamanya  ataupun  hubungan manusia  dengan alam lainnya (nabati, hewani  dan  lain sebagainya).

Menurut Prof. Dr. TM.  Hasbi  Ash Shiddieqy,  agama  itu ialah:  ‘Aqiedah  (kepercayaan batin/hati), ‘ibadah  (amal  pekerjaan  yang  mewujudkan kepada  perhambaan  diri  kepada  Allah),  dunia  (tata aturan yang menjadi pedoman dalam  mencapai  kemajuan dunia  dan  kemakmuran manusia), akhirat (tata  aturan yang   menjadi  pegangan  dalam  mencapai   kebahagiaan akhirat),  siyasah (tata aturan  mengendalikan  negara), daulah (tata aturan bernegara dan berpemerintahan yang harus  dipatuhi  dan dijalankan) itulah  agama  menurut kehendak Islam (Allah).

Agama   (Ad Dien),  sering  juga  disebut dengan   Syara’, Syariat,  dan Millah. Agama sebagai  undang-undang  ke-Tuhan-an  (ilahiyah)  disebut dengan  Ad  Dien  (Agama) adalah  karena  undang-undang tersebut  harus  diikuti dengan  taat dan khudlu’ (patuh dan  menundukkan diri) dan wajib dijunjung  tinggi.  Agama  disebut   dengan Syara’,  adalah mengingat bahwa agama itu  suatu  jalan yang  harus  dilalui  oleh para  hamba,  supaya  sampai kepada  yang  dituju. Agama dinamai  dengan   Syari’at, adalah  mengingat persamaannya dengan air yang  hening-bening, putih-jernih, melepaskan dahaga dan menyejukkan badan.  Karena agama memberikan  ketenangan,  keadilan, kebenaran,  dan kebahagiaan. Agama juga disebut  dengan Millah,  adalah  karena undang-undang ilahiah ini bermaksud  untuk mempersatukan pemeluknya dalam suatu ikatan yang  kokoh, juga mengingat karena  hukum-hukum agama itu dibukukan.

AGAMA ISLAM

Islam bermakna  selamat,  sejahtera,  aman,  damai  dan bahagia; kebahagiaan dan  kesejahteraan  lahir-batin, jasmani-ruhani, material-spiritual dan dunia-akhirat. Islam juga berarti tunduk dan patuh kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Islam adalah agama yang telah ditetapkan oleh Allah bagi seluruh umat manusia. Manusia yang mencari agama selain Islam, nanti di akhirat akan merugi, karena keberagamaannya ditolak.

Sesungguhnya  agama (yang diridloi)  di  sisi  Allah hanyalah  Islam. (QS 3:19, Ali ‘Imran).

Barang siapa yang mencari agama selain agama  Islam, maka  sekali-kali  tidaklah akan diterima  (agama  itu) daripadanya,  dan dia di akhirat  termasuk  orang-orang yang rugi.    (QS 3:85, Ali ‘Imran).

 Sebagai   agama   keselamatan,  Islam  bersifat universal. Tidak  dibatasi oleh   batas-batas  geografi, ras,  bahasa,  maupun kebangsaan. Kehadiran  Islam  bukan hanya  bagi  bangsa Arab saja tetapi  merupakan  rahmat bagi  semesta  alam, dan seluruh  umat  manusia  berhak untuk menikmatinya.

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.  (QS 21:107, Al Anbiyaa’)

Sebagai agama yang dihadirkan untuk umat manusia, Islam memberikan   arah   kehidupan  yang   seimbang.   Islam menghendaki  agar  manusia mengejar  kehidupan  akhirat dengan tidak melalaikan kebahagiaannya di dunia. Adalah  merupakan   fakta,  bahwa manusia harus  melewati  fase kehidupan   dunianya  sebelum  hadir   dalam   suasana yang abadi di akhirat. Islam merupakan “jembatan emas”  bagi manusia  yang  mencari kesejahteraan di dunia dan kebahagiaan  sejati  di  akhirat kelak.

 Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.  (QS 28:77, Al Qashash)

Islam  adalah agama  yang  sempurna dan sesuai dengan fithrah manusia.  Karena itu, Islam  dapat  memberikan  jawaban   atas  persoalan  kehidupan  umat   manusia, baik permasalahan sosial,  ekonomi, politik, budaya, kenegaraan,  maupun yang lainnya. Islam juga  mampu memberikan jawaban atas eksistensi  manusia dan ruang lingkup yang meliputinya berupa alam  semesta ini,  maupun hal-hal  ghaib yang  tidak  diketahui manusia. Islam bukan hanya agama individual tetapi juga memiliki dimensi sosial yang mampu mengatur dan memberi  arah  gerak  peradaban  manusia menuju kebahagiaan  yang diharapkannya dalam  naungan  nilai-nilai ilahiah.

  Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fithrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fithrah itu. Tidak ada perubahan pada fihtrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.  (QS 30:30, Ar Ruum)

Sebagaimana  telah diketahui, Islam adalah agama  wahyu yang  diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada Rasul-Nya,  untuk disampaikan  kepada   segenap umat  manusia,  sepanjang masa  dan setiap persada, karena itu Islam tentu  agama yang  benar. Kebenaran  Islam  dapat  dilihat  dari  validitas dan autentitas  kitab sucinya, korelasi yang  harmonis  antara ayat-ayat  quraaniyah dan kauniyah, kebenaran ide  yang dikandungnya dengan realita, dan lain sebagainya. Meskipun demikian, seseorang tidak akan dipaksa untuk memeluk agama Islam. Jika ada manusia yang masih ragu, mereka dipersilahkan untuk menjawab tantangan membuat satu surat saja yang sepertinya. Guna membuktikan kebenaran dari keraguannya tersebut.

Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu  jangan sekali-sekali kamu termasuk orang-orang yang ragu.  (QS 2:147, Al Baqarah).

 KEKAFFAHAN DALAM ISLAM

Islam  adalah agama wahyu yang dihadirkan  kepada  umat manusia  untuk menjadi petunjuk bagi  orang-orang  yang beriman. Petunjuk  yang datangnya dari Allah harus  diikuti oleh  manusia,  karena dengan  mengikuti  petunjuk  itu manusia akan menemukan jalan hidup yang benar sesuai dengan   fithrahnya. Sayangnya, tidak semua manusia mau mengikuti petunjuk yang diturunkan Allah subhanahu wa ta’ala melalui para Rasul. Bahkan, ada yang cenderung taqlid buta, hanya mau mengikuti jejak nenek moyang mereka, meskipun itu keliru.

Petunjuk  Allah  hanya   akan bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. Mereka mengambil  manfaat  atas  petunjuk   tersebut  untuk kehidupannya,  sehingga terbimbing  dalam kebajikan di dunia dan  akhirat. Dengan mengikuti petunjuk Allah manusia menemukan kebenaran, kedamaian dan kebahagiaan sejati. Bergembira dalam  ketenangan  janji  Allah,  sedang  mereka  tiada khawatir  dan bersedih hati.

Sebagai suatu sistema credo (tata keimanan) Islam harus diterima  secara kaffah (totalitas).  Penerimaan  Islam secara  menyeluruh meniadakan  adanya  penerimaan sebagian  petunjuk (ayat)   -karena  disukai-  dan  penolakan ayat  yang lain  -karena  tidak  disukai-  oleh manusia. Penerimaan secara parsial hanya akan menimbulkan ketimpangan di dalam beragama, dan bisa menyebabkan tersesat dari jalan yang lurus. Yang berdampak pada kekacauan dalam kehidupannya di dunia dan membahayakan dalam kehidupannya di akhirat kelak.

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah Syaitan. Sesungguhnya Syaitan itu  musuh  yang nyata bagimu.  (QS 2:208, Al Baqarah).

Secara terminologi iman berarti kepercayaan yang diyakini dalam hati, diungkapkan secara lisan dan diaplikasikan dalam amal perbuatan. Karena itu, bagi seorang muslim  hanya pengakuan  percaya  saja  kurang  bermakna  apabila tanpa  dimanifestasikan  dalam  amal  shalih. Dengan demikian iman bukan hanya berarti keyakinan hati saja, tetapi juga pengakuan secara verbal dan pernyataan dalam aktivitas kehidupan. Bila ditarik korelasi antara  makna  keimanan dengan kekaffahan dalam penerimaan Islam, akan menunjukkan bahwa menerima Islam secara kaffah (totalitas) juga mengharuskan dalam merealisasikannya dalam kehidupan, sebagai bukti atas penerimaan tersebut.

Manusia dalam  kesejarahannya selalu  berusaha  untuk membangun peradaban yang lebih maju. Di dalam membangun peradaban  ini, manusia  melakukan  aktivitas kehidupan  yang bermacam-macam, baik  ekonomi,  sosial, budaya,  politik maupun yang lainnya.  Menurut  Islam,  dalam membangun peradabannya manusia harus  mengikuti nilai-nilai kebenaran yang datang dari Allah Yang  Maha Tahu, yang telah memberi petunjuk kepada umat  manusia berupa   ajaran  agama  Islam.  Petunjuk Allah akan memberikan arah   bagi  manusia   dalam   membangun peradabannya, agar tetap berada di jalan yang  diridlai-Nya. Karena itu, kekaffahan dalam menerima Islam  menjadikan umat  manusia selalu berada dalam kebenaran,  sedangkan pencampur-adukan  antara  petunjuk dan  kesesatan  pada  akhirnya akan merugikan manusia sendiri. Allah melarang aktivitas  yang  mencampur-adukkan   antara  kebenaran dengan kebathilan sedemikian pula melarang  upaya-upaya untuk menutupi  kebenaran  yang   datang   dari-Nya, sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:

 Dan janganlah kamu campur adukkan yang haq dengan yang bathil  dan  janganlah kamu sembunyikan yang  haq  itu, sedang kamu mengetahui.   (QS 2:42, Al Baqarah).

Tepat sekali, bila manusia menerima Islam secara kaffah, karena Islam adalah agama   yang diridlai Allah. Dengan menerima Islam, manusia telah berlaku ta’at kepada-Nya dan berada di jalan yang lurus sesuai dengan fithrahnya. Ketaatan  kepada Allah membawa manusia  menjadi orang yang bertaqwa, dan sebaik-baik manusia di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa. Bagi orang yang bertaqwa kepada Allah, maka Allah mencintainya, melindunginya dan menyertainya dalam  segala aktivitas kehidupan yang dilakukannya. Mereka akan  diberi  balasan   dengan kenikmatan syurga. Sedang  bagi  para  pengingkar  dan   pendusta terhadap  petunjuk  Allah, pada akhirnya  akan  memasuki keabadian dalam keadaaan tersiksa dalam api yang membakar, neraka.

 Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari  Tuhanmu dan  kepada syurga yang luasnya seluas langit dan  bumi yang  disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.  (QS 3:133, Ali ‘Imran).

EKSISTENSI MANUSIA

Kehadiran  manusia  di bumi bukan  atas  kemauannya sendiri,  tetapi  atas kehendak  Yang  Maha   Pencipta. Manusia  diciptakan  Allah  dalam  bentuk  yang  sebaik-baiknya. Baik ditinjau secara psikis maupun fisik  manusia  merupakan makhluq ciptaan  Allah  yang memiliki kelebihan dibandingkan dengan makhluq yang lain. Secara psikis, manusia  bukan  saja  mampu   mempergunakan   perasaan secara  instinktif,  tetapi  juga   memiliki kemampuan  untuk mempergunakan akalnya, berfikir  secara rasional.  Secara  fisik, manusia  memiliki otak  yang  merupakan organ  penting, dan bentuk anatomi tubuh yang  memungkinkan melakukan  aktivitas  gerak  dengan  lebih  leluasa dan efektif. Dengan kondisi tubuh yang seperti itulah manusia siap menerima amanah keimanan dan mengimplementasikannya dalam aktivtitas amal shalih.
Bersamaan dengan jin, keberadaan  (eksistensi)  manusia  di bumi  tidak  lain adalah untuk mengabdi kepada Allah. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia  melainkan supaya   mereka   menyembah-Ku.   (QS   51:56,   Adz Dzaariyaat).

 Tugas pengabdian (penghambaan) ini dilaksanakan manusia dengan cara melakukan ibadah, baik dalam  arti khas (mahdlah) maupun dalam arti luas (ghairu mahdlah). Endang Saifuddin  Anshari, MA  memberikan  makna ibadah dalam arti   khas  sebagai segala   tata  cara,  acara  dan  upacara  pengabdian langsung  manusia kepada Allah, yang segala sesuatunya secara    terperinci    sudah    digariskan    oleh    Allah   dan  Rasul-Nya; seperti    Shalat,    Zakat,   Shaum,    Haji   dan  lain    sebagainya, yang   bertalian   erat   dengan   hal-hal termaksud. Sedangkan ‘ibadah dalam arti luas  (meliputi antara lain ‘ibadah dalam arti khas) ialah  pengabdian, yaitu   segala  perbuatan  perkataan  dan  sikap   yang bertandakan:  (1)  Ikhlas sebagai  titik  tolak;  (2) Mardlatillah  sebagai titik tuju; dan (3)  Amal  Shalih sebagai garis amal, termasuk di dalamnya antara lain: mencari nafkah, mencari ilmu, mendidik,   bertani, bekerja-buruh, memimpin negara dan masyarakat dan  lain sebagainya.

Sebagai  hamba  Allah manusia harus  tunduk  dan  patuh  (islam)   kepada   Allah.   Ketunduk-patuhan   tersebut dilakukan  dengan mengambil Islam sebagai agama  secara kaffah, sebagaimana telah dibicarakan di depan.  Manusia harus berani meninggalkan  agama-agama atau paham-paham (isme-isme) yang sesat. Pada  dasarnya semua  agama itu sesat kecuali  Islam. Islam-lah  agama yang  dibawa  para utusan Tuhan Yang Maha  Tahu.  Nabi  Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa (Yesus), dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam serta yang lainnya membawa agama Islam.   Suatu  syari’at  yang  mengajak  umat   manusia menegakkan  iman  tauhid dan tunduk  patuh  berserah diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

 Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. (QS 23:52, Al Mu’minuun)

 Di dalam  mengabdi  kepada Allah,  manusia  harus berlaku  ikhlas  dan  memurnikan  ketaatan   kepada-Nya semata. Pemurniaan  ketaatan  kepada Allah  adalah  suatu  yang diperlukan   umat   manusia,   supaya   tidak    terjadi penyelewengan  terhadap ajaran agama yang  dibawa  para Rasul,  seperti  yang  terjadi  pada  umat  Yahudi  dan Nashrani.

  Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.  (QS 1:5-7, Al Faatihah)

 Di  dalam  mengemban tugas hidup  sebagai  hamba  Allah manusia melaksanakan fungsinya selaku Khalifah Allah di bumi, melaksanakan segala yang diridlai-Nya di atas bumi untuk  mengkulturkan  natur dan dalam waktu  yang  sama untuk  meng-Islam-kan kultur.     Sebagai Khalifah Allah, manusia berusaha untuk memakmurkan bumi, mengolah sumber daya   alam  bagi  kemajuan kebudayaan, peradaban dan kebahagiaannya. Mempergunakan  nikmat kekhalifahan ini untuk bersyukur dalam rangka  mengabdi kepada-Nya.

 TUJUAN HIDUP MANUSIA

 Manusia  diciptakan  Allah  bukanlah  dengan   sia-sia, tetapi  memiliki  tujuan yang  esensial. Dr. Murthada Mutahhari mengungkapkan: “Dengan demikian tujuan  hidup  menurut  Al  Quraan  adalah  Allah   itu sendiri.  Segala sesuatu hanya karena Allah atau  Tuhan Semesta Alam. Segalanya dikerjakan  dalam  rangka mempersiapkan  agar  memperoleh  ridla  Allah. Bukan semata-mata  bertujuan untuk meraih  keuntungan  secara bebas  tanpa  batas “.

Allah   mencintai  hamba-Nya  yang  beriman,  yang   mau mengerti akan keberadaannya di muka bumi nan fana  ini. Manusia  yang  mau  memahami  keberadaan  dirinya  akan berusaha  menjaga diri dengan berlaku  taqwa  kepada Penciptanya,  tidak larut  dalam  kenikmatan duniawi sehingga lupa kepada Tuhannya. Manusia  yang seperti  ini  memilih tujuan hidup  yang  lebih  tinggi yaitu Allah subhanahu wa ta’ala, dengan selalu berusaha mencari  keridlaan-Nya (mardlatillah),  dari  pada sekedar  mencari  tujuan hidup sesaat  yang  tidak memiliki dimensi akhirat.

 (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali). Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS 2:156-157, Al Baqarah)

Dan  diantara manusia ada  orang  yang  mengorbankan dirinya karena mencari keridlaan Allah; dan Allah  Maha Penyantun  kepada  hamba-hamba-Nya.   (QS  2:207,  Al Baqarah).

 Selanjutnya  beliau   menyatakan: “Banyak orang mengartikan tujuan hidup manusia sekedar untuk mencapai kebahagiaan  (happiness), Yakni hanya untuk  memperoleh suasana kehidupan yang menyenangkan, menikmati  karunia Tuhan dengan senang hati serta terhindar dari pelbagai penderitaan, kesengsaraan,  ataupun  kesedihan  karena faktor  alamiah  maupun  yang  berasal  dari   dirinya sendiri.  Barangkali  ini yang disebut  bahagia.”

Namun  kebahagiaan  hidup  bukanlah  hanya  kebahagiaan duniawiah  semata, tetapi ada kebahagiaann hidup yang lebih  tinggi nilainya yaitu kebahagiaan ukhrawi dalam keabadian yang penuh dengan suka cita. Bagi manusia yang taqwa,  disamping dia mencari  kebahagiaan  hidup di dunia  dia  juga merasa berkepentingan dan berusaha untuk mencari kebahagiaan di akhirat yang hanya  dapat dicapai dengan karena mendapat ridla Allah subhanahu wa ta’ala.

Hai  jiwa  yang tenang.  Kembalilah  kepada  Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridlai-Nya. Maka  masuklah ke dalam  jama’ah hamba-hamba-Ku, dan  masuklah  ke dalam Syurga-Ku.  (QS 89:27-30, Al Fajr).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s