Sosialisme di Dalam Islam

Oleh HOS Tjokroaminoto

  1. Dasarnya Sosialisme Islam

“Kaanannasu ummatan wahidatan”

Peri-kemanusiaan adalah menjadi satu persatuan”, begitulah pengajaran di dalam Qur’an yang suci itu, yang menjadi pokoknya sosialisme. Kalau segenap peri-kemanusiaan kita anggap menjadi satu persatuan, tak boleh tidak wajiblah kita berusaha akan mencapai keselamatan bagi mereka semuanya.
Ada lagi satu sabda Allah di dalam Al Qur’an memerintahkan kepada kita, bahwa kita “harus membikin perdamaian (keselamatan) diantara kita”. Lebih jauh di dalam al Qur’an ada dinyatakan, bahwa “kita ini telah dijadikan dari seorang-orang laki-laki dan seorang-orang perempuan” dan “bahwa Tuhan telah memisah-misahkan kita menjadi golongan-golongan dan suku-suku, agar supaya kita mengetahui satu sama lain”. Baca lebih lanjut

Cakrabuana, Syarif Hidayatullah, dan Kian Santang; Tiga Tokoh Penyebar Agama Islam di Tanah Pasundan

BERBICARA tentang proses masuknya Islam (Islamisasi) di seluruh tanah Pasundan atau tatar Sunda yang sekarang masuk ke dalam wilayah Provinsi Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat, maka mesti berbicara tentang tokoh penyebar dari agama mayoritas yang dianut suku Sunda tersebut. Menurut sumber sejarah lokal (baik lisan maupun tulisan) bahwa tokoh utama penyebar Islam awal di tanah Pasundan adalah tiga orang keturunan raja Pajajaran, yaitu Pangeran Cakrabuana, Syarif Hidayatullah, dan Prabu Kian Santang. Baca lebih lanjut

POTRET KEMERDEKAAN DI ZAMAN KHULIFAUR RASYIDIN

Diantara cirri-ciri system kekhalifahan adalah terwujudnya kemerdekaan yang sempurna untuk mengkritik dan mengeluarkan pendapat. Para Khalifah tidak pernah menutup diri dari rakyat banyak, tapi sebaliknya, mereka seringkali duduk bersama anggota-anggota ahli musyawarah dan ikut serta dalam diskusi – diskusi dan pembahasannya. Tidak ada partai pemerintah dan partai oposisi. Setiap orang yang hadir dalam majelis musyawarah dengan mudah dapat memberikan pendapatnya dengan kebebasan penuh sebagaimana yang didiktekan kepadanya oleh iman dan hati nuraninya. Baca lebih lanjut

SYAHADAH PINTU GERBANG KEMERDEKAAN

Katakanlah: “Hai manusia Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, Yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang Ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah Dia, supaya kamu mendapat petunjuk”.(7:158)

Tidak diragukan lagi syahadat yang mengubah wajah Arab jahiliyah menjadi wajah Islam yang cemerlang, kegelapan diganti dengan cahaya terang benderang, permusuhan pun diganti dengan suasana ruhama’ bagai satu tubuh. Rosululloh diutus untuk seluruh Manusia dan menjadi rahmat bagi seluruh Alam, baik alam syahadah maupun alam ghaib, agar manusia sadar akan arti kehidupan yang sebenarnya. Kehidupan Jahiliyah adalah suatu kehidupan dialam gelap, bukan gelap tidak ada cahaya matahari dan penerangan, tetapi gelap karena tidak bias membedakan mana yang haq dan mana yang bathil, mana yang halal, dan mana yang haram. Hidup bagaikan kehidupan binatang buas, tidak tahu apa yang harus ditempuh dalam kehidupan ini. Baca lebih lanjut

Membangun Trustful Society

Masyarakat dalam Bahasa Inggris disebut dengan kata “society” yang diambil dari Bahasa Latin, yaitu “socius” yang berarti “kawan.” Dalam Bahasa Arab, kata masyarakat berasal dari akar kata “syaraka” yang artinya “ikut serta, dan berperanserta.” Gabungan dari Bahasa Inggris, Latin dan Arab ini, bermakna bahwa masyarakat itu berarti ada hubungan “perkawanan” (atau interaksi dalam bahasa sosiologi), dan “saling berperan  serta, bantu membantu.”

Koentjaraningrat, mahaguru Antropologi Indonesia, mengartikan masyarakat sebagai “sekumpulan manusia yang saling berinteraksi.”Di dalam interaksi ini membutuhkan komunikasi. Ada bahasa-bahasa tertentu yang disepakati oleh komunitas tertentu. Atau, ada juga pranata-pranata sosial yang telah disepakati dan dijalankan bersama oleh anggota masyarakatnya. Baca lebih lanjut

5 K bagi kesuksesan JIHAD

1. KONSOLIDASI

Perteguh kesatuan dan persatuan. Gemakan senantiasa ukhuwah dalam khithoh yang sama. Yakinlah dengan hal itu musuh akan centang perenang lari tunggang langgang.

103. dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. Q.S. ali Imron [3}:103 Baca lebih lanjut

Memimpin dengan “The 8th Habit”

Stephen R. Covey, seorang ahli kepemimpinan, menulis buku lanjutan dari The 7 Habits of Highly Effective People. Bukunya berjudul The 8th Habit (Kebiasaan yang Kedelapan) dan diterjemahkan oleh Gramedia (2005) dengan tambahan sub judul “melampaui efektivitas, menggapai keagungan.”Apa yang ditulis Covey dalam buku ini rasanya penting untuk dipraktekkan oleh siapa saja—termasuk para pemimpin di semua level.

Apa isi buku tersebut? Setidaknya, poin inti yang dapat kita ambil dari “kebiasaan ke-8” ini berbunyi, “menemukan suara panggilan jiwa anda dan mengilhami orang lain untuk menemukan suara kemerdekaan jiwa mereka.” Tugas pemimpin—dalam konteks ini—adalah bagaimana menemukan potensi/bakat atau panggilan jiwanya, dan ia mengilhami warga masyarakatnya (termasuk bawahannya dalam birokrasi) untuk menemukan potensi mereka/titik kompetensi terbaiknya untuk menciptakan kehidupan bermasyarakat yang lebih baik. Baca lebih lanjut